Tawaran Pekerjaan

Dimuat di Tanjung Pinang Pos

Tawaran pekerjaan baru ini sungguh menarik bagi Parjo. Lebih mudah dan gampang dari pekerjaannya yang ia lakukan sekarang ini: menjadi kuli barang alias manol di pasar Klewer. Walaupun bisa mendapat banyak uang kalau sedang banyak langganan. Namun, tubuhnya yang mulai ringkih sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklum saja, usianya sudah hampir 60 tahun.

Hingga datanglah seorang perempuan setengah tua. Berpenampilan orang kaya. Mas-giwang gemerlapan di badannya. Pendeknya, perempuan yang tidak tidak cantik namun tidak juga jelek itu menyuruh Parjo mengusung barang-barang ke dalam mobil. Barang-barang itu berupa kain mori dan handuk kecil dalam jumlah banyak. Baru kali ini Parjo melihat perempuan itu. Parjo berharap perempuan itu jadi pelanggan tetapnya kelak.

“Nanti kalau datang lagi, biar saya angkat saja bawaannya, Bu. Tidak perlu manggil yang lain. Insya Alloh siap kok…”
“Nggih Mas. Ya, nanti kalau pas ke pasar ini lagi.”
“Ini buat apa banyak handuk dan kain mori begini, Bu?”
Perempuan itu tidak menjawab. Parjo tahu diri jika pertanyaannya diabaikan. Ia bertanya yang lain.
“Kalau rumahnya mana, Bu?”
“Saya di Karanganyar, Mas.”
“Lho, saya juga Karanganyar. Daerah mana Panjenengan kalau boleh tahu..”
Parjo mengenali plat mobil Avansa itu. Memang tanda kendaraan daerah Karanganyar.
“Saya di Papahan, Mas. Panjenengan mana?”
“Saya daerah Ngijo. Berarti utara desa panjenengan. Tidak jauh.”
“Nggih, keleresan. Apa sudah lama di sini? Berapa tahun?”
“Wah, sudah lama, Bu. Sudah lima tahunan. Ya, rejekinya di sini, mau gimana lagi.”
“Berarti uangnya banyak ya mas jadi manol di sini…”
“Ya, nggak banyak sih bu…tapi lumayan…
Setelah selesai mengusung ke dalam mobil semuanya, Parjo berdiri menunggu si empunya barang memberi upah seperti biasa. Si perempuan juga tahu diri.
“Ini uangnya mas. Cukup atau masih kurang ini?”
Selembar lima puluh ribuan. Tentu saja lebih dari cukup.
“Wah, saya ndak punya kembalian itu, Bu…”
“Wis, nggak usah, Mas. Buat sampeyan saja…”
“Maturnuwun. Mugi-mugi rejekinipun lancar…” seperti biasa Parjo berbasa-basi.
Sejenak si perempuan itu rupanya terkesan dengan Parjo.
“Eh, Mas. Panjenengan kan deket Papahan juga. Kalau ada tawaran pekerjaan di Papahan mau tidak?”
“Ehm, kalau cocok nggih purun to bu…”
“Ya, kalau mau jenengan harus stand by di sana lho… gimana?”
“Ehm, ya itu tadi. Kalau cocok saya nggih purun. Ibu sendiri pasti paham maksud saya…”
“Iya, aku paham maksudmu itu. Uang tho… Wis, soal itu. Aku bisa jamin. Berapa sehari paling banyak kamu dapat di sini?”
“300 an ribu bu, bersih…”
Parjo mengatakan itu, artinya 300 an ribu itu sudah tidak termasuk makan, minum dan yang lainnya.
“Baik. Aku juga kasih 300 ribu sehari.”
“Kok sama saja, Bu?”
“Bedanya, kamu itu tidak banyak keluar keringat. Paling satu kerjaan cuma 15 menit saja rampung. Wis, dijamin ora abot babar blas…”
Parjo tertawa. “Nyambut damel napa niku bu… nggih kula kepengin. Nanging niki halal to bu?”
“Ya genah halal to mas. Sing penting tidak merugikan orang lain. Gimana cocok mboten?”
Parjo garuk-garuk sebentar. Ia mengangguk.
“Nggih, kula purun…”
“Kudu metu saka manol ora papa?”
“Nggih..” ujar Parjo mantep.
Parjo kemudian pamit kepada bos manol di pasar Klewer itu. Sebelumnya, agak heran bosnya dengan keinginan Parjo yang mendadak itu.
“Beneran lho, Jo? Tidak ada petir tidak ada hujan, kok kamu tiba-tiba pengin berhenti..” ujar pak Kasmidi, bos manol itu.
“Nggih pak. Mumpung ada pekerjaan dekat rumah.”
“Ya, sudah kalau gitu. Aku juga tidak akan menghalangi kamu. Biar nanti aku cari ganti yang lain. Soalnya sing kepengin nglamar manol setelah Klewer direhab tambah banyak. Lha, anehnya kok kamu malah pengin keluar. Nanging, ya ora masalah. Muga-muga wae lancar lah…”
“Nggih, matur nuwun pak…”
“Ini ada sedikit amplop. Tolong diterima.”
“Nggih, matur sembah nuwun. Muga-muga gusti Alloh mbales langkung sae..”
Sesampai di rumah, Parjo segera mencari istrinya yang sedang berada di dapur. Istrinya sedang masak jam tiga sore ini.
“Tumben, jam segini sudah pulang, Pak?”
“Iya, tadi aku dikasih bonus ini dari pak Kasmidi.”
Parjo menyerahkan bonus dari pak Kasmidi karena telah menjadi pekerja lima tahun sebagai manol di pasar Klewer pada istrinya.
“Ini Bu, bonus dari pak Kasmidi.”
Sebuah amplop berisi uang seperti perkiraan Bu Parjo.
“Wah, banyak pak. Satu juta rupiah.”
“Semuanya satu juta setengah tadi. Aku ambil lima ratus, buat lunasin hutang di warung dan si Saidi.”
“Aslinya ini bonus apa tho pak ini?”
“Pokoke, itu kamu bawa. Eh, dimana anakmu?”
“Belum pulang sekolah. Sekarang kan Tarno itu pulangnya sore terus.”
Parjo melihat jam di dinding yang menunjuk angka tiga.
“Masih ada setengah jam, Bu. Penake yen ora ana bocah-bocah ngene ki..”
Parjo menghampiri istrinya, sambil mencolek pinggang istrinya yang subur.
“Lah Pak. Lha ini masih pakai celemek di dapur kayak gini, mau yang begituan… mbok nanti malam wae… arep selak ngapa to?”
Parjo menghela napas sambil mencep. Tidak berani ia memaksa istrinya.
“Yo wis. Sik, aku tak adus wae.”
“Yo, tak gawekne wedang saiki.”
Parjo mengambil handuk. Istrinya mengaduk wedang. Nampak perempuan itu ingin mengutarakan sesuatu.
“Pak, aslinya ini uang bonus apa to? Kok akeh men… ojo-ojo sampeyan ki diPHK.”
“Ora, ora ana sing diPHK. Nanging aku metu karepku dhewe…”
“Inna lillah… rak yo tenan to firasatku…”
“Ora ngono, Bu. mengko tak critani.. aku arep adus sik. Tenan wis. Sak critan apa rong critan saknjalukmu… hahaha…”
“Wong gemblung…dijak guneman tenanan kok…”
“Aku yo tenanan lho… pengin saiki po piye? Tak uculane handukku maneh…”
Parjo usil beneran. Handuknya dilepas. Telanjang bulat begitu sambil kembali menghampiri istrinya.
“Ah..kono…kono…saru pak! Yen disawang anakmu mulih sekolah…ooo…”
Parjo tertawa. Ia masuk ke kamar mandi. Tak lama suara jebur air menjadi orkes tunggal di kamar mandi itu.
***
Malam itu setelah Parjo minta jatah istrinya, keduanya berbincang di tepi ranjang. Istrinya membenahi rambut yang kusut masai setelah ‘perkelahian sebentar’ itu. Sedangkan Parjo asyik menyulut rokok kretek favoritnya.

“Tadi siang itu aku ditawari pekerjaan seseorang. Rumahnya deket di Papahan.”
“Terus bapak mau? Terus, manolnya dilepas gitu?”
“Iya. Limang tahun dadi manol capek, Bu. Kelihatan tidak ada peningkatan.”
“Iya pak. Aku paham maksud sampeyan. Lha terus kerjaannya apa pak?”
“Katanya di klinik. Kerjaannya enak. Aku cuman disuruh standbby di sana. Dan besok pagi aku harus sudah berangkat jam tujuh. Gajine 300 perhari.”
“Wah, banyak itu pak. Lumayan.”
***
Pagi itu Parjo jam tujuh sudah sampai di klinik itu. Klinik itu tidak mengesankan sebuah klinik. Nampak seperti rumah biasa. Hanya ada seorang perawat yang hilir mudik ketika Parjo datang pertama kali itu.
Parjo ingin mencari perempuan di pasar kemarin itu. Celingak-celinguk ia tidak melihatnya. Namun akhirnya, Parjo melihat juga perempuan itu.
“Mas sini…” panggilnya pada Parjo.
Parjo mendekat. Perempuan itu tampak berkeringat sepagi ini. Mungkin ia habis mengerjakan yang berat.
“Cepat ini mumpung ada pekerjaan, Mas. Sampeyan langsung ke kebon di belakang rumah ini ya! Nanti barangnya aku antar.”
Parjo masih belum ngeh. Barang apa yang akan diantar itu.
“Cepat, Mas…”
Parjo memutari rumah besar itu. Di belakang ada kebon tanah yang cukup luas. Di dekat keran air ada cangkul dan sekop serta ember. Parjo menebak-nebak kiranya garapan apa yang akan ia lakukan pagi ini.
“Mas Parjo ke sini…”
Lamunan Parjo terpecah. Perempuan itu memanggil. Di tangannya ada sebuah tembikar yang dibalut dengan kain jarit.
“Ini tolong dikuburkan segera ya. Di ujung kebon sana itu ya…”
Pak Parjo sejenak ragu. “Ini yang dikubur apa, Bu? Apakah ini ari-ari bayi?”
Parjo ingat dulu jaman tatkala anaknya yang satu-satunya itu lahir dia juga diberi tembikar berisi plasenta bayi atau ari-ari seperti ini. Dan dia menguburnya seperti pesan orang tuanya.
Perempuan itu sejenak mengamati Parjo.
“Iya. Ini plasenta bayi dan orok bayi.”
Mak glek, Parjo menelan ludah. Tubuhnya entah mengapa gemetar.
“Sampeyan tidak usah takut atau bingung. Segera kubur saja orok yang tidak dikehendaki orang tuanya ini…”
Parjo entah mengapa merasa tertipu.
“Jadi ini?”
“Ya Mas. Saya tidak akan bohong pada sampeyan. Di sini sampeyan kusuruh mengubur orok-orok yang diabortasi. Sehari paling 4 sampai lima kali. Sudah, sore hari ini gaji sehari sampeyan langsung kuberikan. Yang penting sampeyan bisa jaga rahasia.”
Parjo masih gemetar. Ia tidak pernah membayangkan akan melakukan pekerjaan seperti ini.
“Jaman sekarang kayak ini biasa mas. Yang penting tidak ada paksaan. Jadi, ini tidak merugikan siapapun. Lha wong sing mendapat anak malah tidak mau ngopeni kok..”
Parjo seakan merasa dadanya tertumbuk godam sebesar rumah. Betul-betul sesak. Bahkan kepalanya berdenyut terasa pening.
Mendadak ia mencium bau anyir darah dari dalam tembikar itu. Bau anyir darah persalinan.
“Maaf Bu. Saya mau muntah. Saya rasa saya tidak bisa melakukan seperti ini…” Parjo akhirnya bicara.
Parjo mengembalikan tembikar itu lagi. Ia berlalu dari tempat itu dengan tergesa. Sesampai di luar pintu gerbang rumah yang besar itu, Parjo mlipir ke selokan. Di sana ia sukses muntah-muntah dengan sepuasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s