Tag Archives: resensi buku

Kisah Kemuliaan Wanita

SKSR

Wanita mempunyai kedudukan mulia dalam kehidupan manusia. Ditegaskan dalam Al-Hadits, yang pertama kali harus dimuliakan adalah ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian bapak. Hadits ini masyhur dan tak ada perbantahan ulama.
Buku Secangkir Kopi dan Sepotong Roti (SKSR) mengejawantahkan pekerjaan mulia para perempuan, khususnya seorang ibu atau perjuangan seorang ibu. SKSR merupakan buku kumpulan kisah perempuan yang ditulis dari beragam profesi perempuan. Tidak melulu ibu rumah tangga, namun semuanya berwatak satu: peran seorang ibu dalam menyokong kehidupan ini.
Pilihan ini ditegaskan oleh Widi Astuti, yang menceritakan pilihannya untuk menjadi full time mother. Padahal dulu, dia adalah seorang wanita karier yang sukses. Gaji dan pengalaman yang menantang di luaran. Tapi Widi merasa bangga dengan pilihannya karena pekerjaan seorang ibu lebih jauh mulia dan berpahala daripada seorang wanita karier biasa yang akhirnya lebih banyak meninggalkan peran seorang ibu.
Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjadi seroang ibu. Dalam kisah To Be A Great Mommy, Nicole bercerita perihal dirinya yang ditinggal ibunya, dan harus mengasuh adiknya Kyle yang baru kelas 2 SD. Ketika ditinggal pada usia yang muda, 14 tahun, Nicole telah belajar banyak dari ibunya. Ketika ia menikah dan akhirnya mempunyai anak, ia mempunyai semangat dan berharap dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarganya. Seperti tuturannya, “Ini bukan soal berapa lama kau hidup mendampingi orang yang kaucintai, tapi tentang betapa banyak manfaat dan ilmu yang kaubagi kepada mereka.” Ia mendapat intisari hidup dari pengalaman dan perannya sebagai seorang ibu. Dan semua itu tak lain ia dapat dari ibunya dahulu. Continue reading

Patologisme kepada Bunga

sonnenblume(1)

Judul buku : Sonnenblume
Penulis : Ary Yulistiana
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2014
Tebal : vi + 194 hlm

Penulis yang sempat muncul dengan novel-novel teenlitnya yang apik, Ary Yulistiana, kali ini kembali muncul dengan novel romance yang diterbitkan Grasindo. Sosoknya sebagai seorang guru bahasa Indonesia di sebuah SMK dan PNS yang cenderung mapan tak memupusnya untuk berkarya. Novel ini tidak hanya menjadi penanda bagi dirinya tetapi juga dalam kesustraan Indonesia.

Novel Sonnenblume ini berkisah tentang cinta dan bunga matahari. Bunga adalah personifikasi untuk keindahan, kecantikan, dan salah satu simbol kegairahan merayakan hidup. Dari perwujudan dan sifat-sifatnya itulah sosok bunga matahari memiliki daya tarik yang luar biasa. Begitu pun sang tokoh, Sekar, menghadirkan bunga matahari dalam hidupnya lebih dari sekadar entitas tanaman penghias taman. Sekar –sesuai namanya yang berarti bunga– barangkali tak akan mampu hidup tanpa bunga matahari. Bunga matahari, tanpa disadarinya menjadi patologis bagi jiwanya.

Kehadiran cinta posesif seorang Ardiansyah, lelaki dari masa kecil Sekar, adalah perwujudan cinta seorang lelaki yang ingin memiliki seorang perempuan sepenuhnya. Cinta posesif Ardiansyah mencemburui bunga matahari milik Sekar. Jika ingin mendapatkan cinta Sekar sepenuhnya, ia harus memusnahkan bunga matahari dari hidup Sekar.

Ardiansyah mungkin adalah sosok pejuang cinta. Ia melamar Sekar dan menjauhkannya dari bunga matahari dengan mengajak hijrah ke Kalimantan. Sebagai gantinya ia memberikan bisnis intan berlian kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menganggap cinta Sekar bisa menjadi miliknya seorang. Kelak, segala persangkaannya ini menjadi penyiksaan bagi dirinya sendiri. Rantai cinta yang ia miliki untuk memiliki Sekar justru telah membunuh perempuan yang dicintainya itu, bahkan kepada anak turunnya juga.

Pun patologisme kepada bunga matahari itu telah diturunkan pula kepada anak semata wayangnya, Vairam. Ardiansyah mengetahui akan hal ini tatkala Sekar mendapat kecelakaan dan meninggal. Kemalangan ini menghancurkan hati Ardiansyah sekaligus membuat ia makin terluka ketika mengetahui bunga matahari penyebab Sekar mendapat kecelakaan. Titik awal itu tatkala Vairam begitu ngotot menginginkan bunga matahari. Selama ini anak itu hanya mengenal bunga matahari dari gambar dan media visual saja. Sekar ingin memberikan bunga matahari yang asli kepada anaknya. Saat itulah ia malah mengalami kecelakaan di jalan yang menewaskannya.
Sejak saat itu cahaya hidup Ardiansyah telah mati. Ia menyadari Vairam telah menjadi orang yang akan terus dibencinya seumur hidup. Ia pun membuang anak kandung semata wayangnya itu dengan mengirimnya ke Jawa. Tepatnya kembali ke Solo, tempat masa kecil Sekar. Ia tak ingin melihat Vairam yang akan terus menghantuinya dengan bunga matahari.
Continue reading