Tag Archives: Esai

Karanganyar Bukan Impian Semusim

pemim
dimuat Joglosemar, dengan judul Menanti Gebrakan Yu-Ro Jumat, 11/10/2013

Pemimpin baru Karanganyar Juliyatmono dan Rohadi Widodo (Yu-Ro) ditetapkan sebagai pemenang Pilkada akhir September lalu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Wahyu pulung konon telah memilih dan manjing pada Sang satria piningit. Namun satria piningit sekalipun tidak begitu saja kalis nirsambikala, terhindarkan dari marabahaya, dan tidak tersentuh godaan berbuat kesalahan selama memimpin pemerintahan. Atau bahkan menganggap remeh persoalan dan masalah yang diwariskan dari pemimpin sebelumnya. Sebaliknya pemimpin terpilih harus tetap berbenah, harus tetap belajar, membangun dan mewujudkan cita-cita menuju Karanganyar menuju kota modern yang dinamis dan mempunyai integritas, yang memayu hayuning bawono.
Ada kaidah untuk mengedepankan menerima kritik daripada pujian. Hal ini dilakukan agar pemimpin tahu dan bisa menyelesaikan agar tiap masalah tidak menjadi api yang lebih besar dan bisa menghapuskan semuanya. Sebagai contoh pemimpin yang mau membuka telinga kepada rakyatnya adalah ketika Umar bin Khathab terpilih menjadi seorang amirul mukminin (orang yang dapat dipercaya), maka dia berpesan kepada rakyatnya, agar jika dia buat kesalahan segera diluruskan dan jika dia berbuat yang menyalahi peraturan untuk diingatkan. Hal ini pun terjadi ketika dia berkhotbah, maka saat itu ada seorang perempuan yang berani menyela. Umar meradang. Continue reading

Kontroversi Miss World

dimuat di Opini Joglosemar 12/9

1371177708597277869
Perhelatan akbar Miss World 2013 akan segera berlangsung tanggal 22 September nanti. Acara yang dihelat oleh salah satu stasiun swasta tersebut digadang akan menyedot pemirsa dari berbagai belahan negara dunia. Ada sekitar 129 negara seluruh dunia yang positif mengirimkan kontestan mereka (Koran Tempo, 7 Agustus 2013). Sebagai tuan rumah, Indonesia berpamrih dengan adanya acara Miss World 2013 yang penobatannya akan di helat di Sentul International Convention Center (ISCC), Bogor, Jawa Barat itu, bisa menjadi mengenalkan keeksotikan ragam budaya Indonesia sebagai tujuan pariwisata dunia.

Namun mengomentari tentang kontes kecantikan sejagat yang digadang akan mengenalkan keindahan dan menaikkan jumlah wisatawan dunia ke Indonesia, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983, Daoed Yusuf, bersikap negatif. Ia dengan tegas menyatakan alasan Miss World bisa mengenalkan wisata Indonesia itu hanya mengada-mengada. Sejak dulu Indonesia sudah indah dan terkenal akan keindahannya tanpa harus ada kontes Miss World. Pun ia menambahkan siapa pun tokohnya (kontestan) walaupun dia pintar dan punya kepribadian baik, tapi kalau tidak cantik, jangan harap dia akan terpilih menjadi Miss World!

Senada hal itu, ketua dari Muhammadiyah, Muhyidin, berkata kontes Miss World sangat bertolak belakang dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan adab kesopanan. Kontes Miss World secara tak langsung mempropagandakan pola hedonisme dan materialisme. Hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi tujuan utama. Ia menambahkan tak seharusnya promosi wisata mengorbankan jati diri bangsa, karena banyak hal yang bisa dilakukan selain itu. Ia menyeru kepada masyarakat menolak ajang tersebut agar bumi Jawa Barat tak ternodai, ujarnya seperti dilansir Suara Islam Online.
Continue reading