Tag Archives: aku

Dia yang Menanti Suami di Stasiun Ini

brumbung2
dimuat di Solo Pos

Perempuan itu selalu datang ke peron stasiun ini setiap senja. Sudah sebulan ini aku menandai perempuan itu selalu datang sendirian ke tempat ini. Dari penampilannya tentulah ia dari kalangan menengah ke atas. Pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. Mobilnya pun sedan BMW keluaran Eropa. Tetapi, kedatangannya setiap hari ke stasiun ini membuatnya terlihat aneh dan mencurigakan.
Ah, memang melihat orang cantik yang berperilaku aneh memang menarik. Barangkali ia adalah seorang seniwati. Kau tahu seniman atau seniwati seringkali melakukan sesuatu yang nyleneh bagi sebagian orang, tetapi dari perspektif lain ia ternyata sedang membuat mahakarya besar. Atau barangkali ia seorang peneliti yang sedang mengadakan penelitian di stasisun ini. Tapi, penelitian apa yang dilakukan di stasiun ini? Apakah ada yang istimewa dengan stasiun ini?
Mungkin saja. Stasiun ini banyak diabadikan dalam karya sastra. Aku sering membacanya dalam koran minggu terbitan nasional itu. Atau kudengar juga pernah nama stasiun ini dijadikan sebuah buku novel.
Oh, kau belum tahu nama stasiun kereta ini. Namanya stasiun Biru. Jangan kau tanya mengapa stasiun ini diberi nama Biru. Kulihat juga cat tembok di sini tak semua berwarna biru. Beberapa tanda prosedur komplek yang penting juga berwarna merah. Dan semua tampak wajar seperti stasiun lainnya di Indonesia ini. Tapi mungkin dahulu orang yang menamakannya suka dengan kata Biru. Jadi ia menyebut itu dan begitulah semua terjadi. Dan seperti kata Shakspeare, apalah arti sebuah nama. Aku lebih cocok dengan ungkapan yang terakhir ini.
Kembali ke perempuan itu. Senja ini ia datang seperti biasa. Kupikir aku ingin bertanya sesuatu padanya. Mungkin ada yang bisa kubantu. Maksudku, aku merasa ia seperti mencari sesuatu. Dan bukankah sesama manusia sebagai makluk sosial harus selalu membantu yang lain. Jujur, aku pun tak bertendesi apapun.
Kali ini kudekati ia. Ia sedang menekuri hapenya. Melihat inbok di layar android yang tak lekas dijawabnya.
“Permisi mbak… saya lihat mbak sebulan ini setiap hari ke sini…ehm, apakah mbak ini sedang mencari sesuatu? Mungkin ada yang bisa saya bantu.”
Perempuan itu menoleh. Wajahnya memang cantik. Tapi aku mengalihkan perhatianku dari wajahnya yang rupawan itu. Dan aku sempat bersirobok dengan matanya yang menatapku. Astaga, mata itu tidak seperti melihatku. Mata itu kosong.
“Barangkali ada yang bisa saya bantu. Saya petugas kebersihan di sini.”
Perempuan itu masih diam. Aku masih menunggu jawaban darinya. Dan memang terasa segan jika berbicara dengan seseorang tapi tak ditanggapi. Sepertinya aku yang jadi pengganggu di sini.
“Apakah saya menganggu anda? Maafkan saya kalau begitu. Saya akan pergi.” Continue reading

MARTIR

Karomah ilmu khodam_e1

“Kalian tidak mungkin bisa mengeksekusi orang yang punya karomah ini, meskipun kondisi kalian sangat terdesak dan nyawa menjadi taruhan. Sudah terbukti di lapangan, hampir semua rencana yang tersusun rapi -berdasar teori konspirasi yang canggih sekalipun- akan koyak moyak kalau kita langsung memuntahkan timah panas padanya. Ada strategi khusus untuk menyingkirkan orang yang punya karomah seperti ini!”
Sejenak Sang Komandan menyulut rokok dalam-dalam. Gemeretak kretek terbakar. Hampir bersamaan juga asap mengalir dari kedua hidung besar hitam Sang Komandan berwajah codet itu.
“Lalu kita harus bagaimana, Komandan? Tentu ada cara lain?” tanya si bawahan yang bertubuh raksasa.
“Peraturan pertama! Jangan pernah mengeksekusi langsung mereka. Kita harus membuat ‘orang berkaromah ini’ keluar terlebih dulu dari ‘hidayahNya’. Kalian paham maksudku?”
Kedua bawahan yang sama kekarnya itu sama menggeleng, alamat tidak tahu.
“Buat mereka terjatuh dalam kesalahan pikiran mereka sendiri. Kita hancurkan mereka dari dalam. Hanya cara iblis inilah yang sudah teruji di lapangan.”
Ψ
Pondok Al Ikhlas target operasi kami. Jumlah santri berjumlah sekitar 200-an. Kegiatan harian akan menyibukan mereka sehari-hari. Saat itulah aku akan datang dengan menyamar menjadi tukang kebun yang minta pekerjaan atau penjual pakan ternak menawarkan rumput pada mereka. Jika satu pintu gerbang sudah dibuka, aku akan mudah masuk. Selanjutnya aku akan memperkeruh suasana, lalu dengan mudah memancing ikan besar yang sudah megap-megap itu. Tak kusangsikan inilah rencana paling brilian abad ini!
Ψ
“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja Ustadz: bersih-bersih kebun, mencari pakan kambing- yang penting dapat makan dan tempat tinggal.”
“Saya minta maaf, saya tidak bisa membantu saudara. Di sini semua pekerjaan sudah dikerjakan anak-anak.”
“Tolong Ustadz, saya mau tidak dibayar asal masih dapat makan.”
“Maaf, sekali lagi anak muda, semua anak di sini diharuskan bekerja, biar menjadi latihan bagi mereka mencari penghidupan setelah keluar dari pondok. Itulah sebabnya hampir semua pekerjaan sudah kami tangani sendiri. Kami hanya punya kebun-kebun yang sampahnya kami biarkan menjadi pupuk kompos atau menjadi humus bagi tanah. Untuk kambing-kambing itu cukuplah kami berikan makanan berfermentasi, sehingga siapapun tidak perlu untuk mencarikan rumput setiap hari.”
“Tapi Ustadz, saya butuh sekali pekerjaan -apa saja asal dapat makan sudah cukup.”
“Anak muda, kamu bersikeras sekali. Mengapa tidak mencoba di tempat lain? Di warung-warung, atau mungkin di bengkel-bengkel pinggir jalan itu yang butuh tenaga.” Continue reading