Daily Archives: 24 October 2017

Tragedi Cinta dalam Sastra


(Resensi Kumcer Balada Bidadari, Yuditeha)
Resensi andri saptono*

Judul buku : Balada Bidadari (kumpulan cerpen)
Penulis : Yuditeha
Penerbit : Kompas
Cetakan : I, November 2016
Tebal : 133 hlm

Menulis adalah menjauhi rasa sakit dan merayakan cinta (Atmokanjeng)

Menulis cerpen sastra yang bertemakan cinta tragedi adalah pekerjaan ganda sekaligus. Penulis diharuskan berpikir dan juga merasakan nasib tragedi cinta para tokohnya. Yuditeha, dalam antologi cerpen, Balada Bidadari (2016), yang diterbitkan oleh penerbit Kompas ini, menulis kisah cinta para tokohnya yang terkadang di luar logika sekaligus berusaha memasukkan empati di dalamnya. Penulis seperti ini memang tidak banyak yang berhasil, Yuditeha sedikit saja yang berusaha ajeg agar cerpen itu menarik dibaca juga tidak sepi makna.

Cerpen yang terbaik dalam antologi ini, Rusmiyati, mengisahkan balada cinta seorang penari wayang orang. Ia jatuh cinta pada seorang tokoh pejabat yang menurut Rusmiyati adalah sosok Arjuna baginya. Rusmiyati pasrah saja ketika ia hamil dan tak bisa menuntut apa-apa dari sang kekasih itu karena lelaki itu sudah berkeluarga. Konflik ini menjadi tidak biasa, karena justru orang lainlah, sang aku tokoh, yang memposisikan sebagai kacamata norma dan nilai sosial dalam masyarakat itu sendiri. Padahal, Rusmiyati, melakoni cinta yang “bermasalah” itu dengan berbunga-bunga.

Lebih menarik, adalah Yuditeha bermain-bermain dalam dekonstruki cerita rakyat yang sudah terkenal di Jawa. Ada dua cerita rakyat di antologi ini yang juga bertemakan cinta. Kisah Sangkuriang dengan dongeng Tangkupan Perahu (digubah menjadi Lelaki Sampan), dan kisah Jaka Tarub yang beristrikan bidadari (Balada Bidadari). Ketika cerita ini digubah menjadi kisah kekinian, Yuditeha membuat alur yang gotik. Bidadari dengan sayap patah, patung, seniman patung, cemburu, pertengkaran menjadi warna yang suram. Atau ketika Sangkuriang yang awalnya flamboyan menjadi murung justru ketika ia bertemu “cinta sejatinya”, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Dari kedua cerpen ini Yuditeha lebih menekankan unsur psikologis pada konflik antar tokohnya bukan pada kesaktian tokoh yang biasanya menjadi daya pikat dari cerita rakyat.
Continue reading