Daily Archives: 3 March 2014

Novel Jihad nan Liris >> Review “Jurai” Guntur Alam

Review jurai oleh Andri Saptono untuk Festival Sastra Solo yang diadakan Pawon, 22 Feb/23 Feb 2014

Judul buku :Jurai
Penulis :Guntur Alam
Tebal :vii + 300 hlm
Penerbit :Gramedia
Cetakan :Maret 2013

re_buku_picture_86641

Kata Jurai bermakna garis nasib (kehormatan) pada seorang anak yang dikait-kaitkan orang-orang dengan ayah-ibu si anak tersebut. Bila ada seorang anak yang terkenal urakan, nakal maka akan dikatakan: Itu jurai orang tuanya. seperti pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohohnya. Namun makna jurai lebih universal. (Footnote hlm. 8) Saya mencoba membandingkan kosa kata ini dengan sukerta, dalam kosmologi Jawa yang berarti ‘tanda lahir buruk’ semacam sifat genetis (gawan bayi) yang dibawa si anak yang kelak membuatnya mengalami nasib buruk, celaka, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga. Misalnya, anak ontang-anting (anak tunggal) atau anak kembar dampit. Dalam kosmologi Jawa, anak yang membawa sukerta ini harus diruwat, dibersihkan dengan cara menanggap wayang yang lakonnya tertentu. Tentu ini bukan persoalan sederhana. Bukan hanya biaya nanggap wayang itu mahal, namun jiwa kemerdekaan anak dipasung dengan kisah dongengan seperti itu yang sama sekali tidak bermanfaat dan membawa mudharat. Bahkan hal seperti ini dimanfaatkan beberapa orang untuk memancing di air keruh, memasang jasa untuk meruwat dengan tarif mahal dan sangat bangsat sekali membodohi masyarakat seperti itu.
Tetapi dalam novel jurai, sang penulis memaparkan tentang kisah kemiripan si tokoh (Catuk), seorang anak laki kelas V SD yang mirip dengan bapaknya. Kemiripan ini adalah jurai dan sukerta yang kelak bisa membawa bala. Kelak suatu saat, tepatnya pada pada suatu siang di musim kemarau, Ebak—ayah Catuk—tiba-tiba pulang ke limas—rumah adat Sumatra Selatan—dalam keadaan tanpa nyawa. Padahal pagi harinya, dia dalam keadaan baik-baik saja, segar bugar tanpa kurang sesuatu apa. Ebak masih bisa menemani Catuk mandi di Sungai Lematang, bahkan masih sempat memboncengkan anak bungsunya itu ke sekolah, sebelum meneruskan perjalanan dengan sepeda kumbang menuju kebun karet milik Toge Nagap yang biasa Ebak sadap (halaman 4). Diceritakan pada bab-bab awal itu Ebak meninggal karena diamuk babi hutan.
Tapi belakangan, penyebab kematian Ebak terkuak. Ebak menemui ajal bukan karena diamuk babi hutan, melainkan karena ditabrak sepeda motor yang dikemudikan anak Toge Nagap, sang majikan Ebak. Toge Nagap berbuat dusta agar tak terkena perkara. Toge Nagap meminta pegawainya yang saat itu berada di TKP (Tempat Kejadian Perkara) mengarang dusta perihal penyebab kematian Ebak bahwa Ebak mati diserang babi hutan. Sementara itu, Toge Nagap yang mengetahui Emak buta huruf, justru membuat surat pernyataan yang berisi Emak tidak akan menuntut apa pun dari peristiwa itu. Hal ini adalah kekhilafan Emak yang tidak bisa baca tulis yang membuatnya mau membubuhkan cap jempol di surat itu (hlm. 109-110).
Hal ini semacam sindiran bahwa kebanyakan majikan yang busuk akan melahirkan anak-anak yang ceroboh dan busuk pula perilakunya. Jika ini dimaksudkan sebagai pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” kiranya ini lebih tepat untuk perkara negatif ini.
Persoalan lain tentang poligami atau kesetaraan gender coba diselipkan penulis dalam novel ini pula. Seperti sudah jatuh kena tangga, ketika hari berduka itu belum sembuh, pada suatu petang, limas Catuk kedatangan tiga orang asing dari Palembang. Mereka itu terdiri dari seorang wanita beserta dua anaknya. Setelah berbasa-basi, mengakulah wanita itu sebagai istri kedua Ebak. Pengakuan itu bagaikan petir di siang bolong, lebih-lebih saat wanita itu menuturkan pernikahannya dengan Ebak dilangsungkan atas restu Emak lewat surat buatan Ebak yang diberi cap jempol Emak. Continue reading