Daily Archives: 27 February 2014

Membeli Kebebasan Ibu

dimuat di majalah Basis, 01-02,2014
Edisi_22012014222233_2014,_BASIS_0102_cover

Seharusnya peristiwa itu tak perlu terjadi jika aku mampu mencegahnya. Maaf, bukannya aku ingin bermaksud membagi cerita sedih ini dengan kalian. Aku sendiri berharap seandainya dapat kembali ke masa lalu. Seandainya aku dapat mencegah peristiwa celaka itu terjadi. Ibu pasti tidak akan masuk penjara dan istriku tidak akan menjadikan Nadya sebagai anak piatu. Pembunuhan itu kutahu tak pernah disengaja Ibu karena akupun berada di sana ketika istriku terbunuh pada malam celaka itu.

Malam itu aku dan istriku bertengkar. Dewi menuduhku terlalu bergantung Ibu dan mengusulkan agar kami berumah sendiri, sedangkan Ibu tinggal dengan Bi Asih. Tapi aku bersikeras semua itu tak bisa kulakukan. Ibu tak mungkin kutinggal sendiri karena Ibu sudah tua dan kewajibanku sebagai anak satu-satunya untuk merawat dia.

“Aku tak bisa melakukan itu. Selama ini waktumu selalu habis di kampus. Bahkan untuk mandi Nadya saja ia harus berbagi dengan tugas mengajarmu.”
“Aku bekerja itu semua demi kebaikan kita juga. Aku tak mungkin hanya diam di rumah menjaga Nadya. Aku bisa gila jika tidak beraktivitas!”
“Ah, terserahlah… aku tetap tak mau meninggalkan Ibu.”
Istriku membanting pintu kamar karena aku bersikeras. Ibu muncul dan menghampiriku. Kutahu Ibuku prihatin dengan pertengkaran kami.
“Aku khawatir rumah ini akan meledak karena pertengkaran kalian. Makin lama kalian seperti air dan api, tidak bisa disatukan. Ibu tidak akan terlalu sedih kalau kalian bercerai. Kau pun tak perlu harus beristri seorang dosen. Seperti Bi Asih tak apa-apa, asal selalu di rumah merawat Nadya.”
“Ini tidak sesederhana itu, Bu.”
Tak dinyana istriku ternyata mendengar percakapan kami. Ia langsung menyerang Ibu.
“Kau perempuan tua tidak tahu malu! Kau mau menyingkirkanku?!”
Ibuku langsung menampar istriku. Istriku tak terima. Mereka bergelut dan saling dorong. Continue reading