Daily Archives: 12 November 2013

Ibu Vs Nenek Jahat

dimuat di joglosemar 10/11

Nenek Jahat
Kematian Nenek jahat di subuh itu memang tak mengejutkan siapa-siapa. Kami yang merupakan keluarga Nenek selalu menganggap bahwa hanya kematian yang membuat jiwa Nenek yang gelisah dan tiba-tiba menjadi jahat pasca sakit stroke yang menimpanya itu adalah pintu gerbang ketenangan untuknya di alam akhirat. Namun, ada yang membuat kami heran, hampir mendekati sebuah rasa ketertakjubkan sebenarnya saat mendapati Nenek memejamkan mata selamanya itu. Ya, kami tak habis pikir akan bisa mendapati sebuah senyuman di wajahnya, senyum lebar dan ikhlas, seolah-olah Nenek jahat tengah merasa bahagia menyambut dunianya yang baru. Hal ini jelas tak sama dengan bayangan kami yang mengira kematian Nenek akan menjadi sebuah melodrama yang memilukan. Dipanggang rasa sekarat dan kebencian yang merasuki umur-umur tuanya itu, yang membuat ia tersengal-sengal ketika sakaratul maut.

Ah, kehidupan Nenek selalu menjadi misteri bagi kami. Nenek mempunyai perangai yang sulit kami mengerti dan sulit kami pahami. Sejak sembuh dari sakit stroke perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bisa sangat kejam kepada siapapun, termasuk kepada anak-anaknya. Nenek juga memilih hidup sendiri dan menolak tinggal dengan anak-anaknya. Ia mengerjakan semua sendiri di rumahnya di desa; mencari kayu bakar di kebun dan menjemur kayu-kayu itu di halaman untuk kemudian dipakai memasak di pawon . Anak-anaknya yang sudah putus asa menyuruh Nenek ikut tinggal bersama mereka hanya diperbolehkan membawakan beras dan sayur setiap bulan.

Aku pernah diajak Ibuku mengantarkan catu saat Ayah sedang dinas keluar kota. Ibu satu-satunya menantu yang mau pergi ke rumah Nenek. Semua menantu yang lain tak berani atau pura-pura sibuk, karena enggan berhadapan dengan Nenek yang mereka sebut sudah maleh –untuk tidak mengatakan bahwa Nenek sudah hilang kewarasannya.

Saat kami datang itu Nenek sedang tak di rumah. Mungkin sedang mencari kayu bakar di kebun seperti biasa. Kami bisa masuk ke dalam rumah karena pintu tak terkunci. Menurut cerita Ibu, nyaris tak ada tetangga yang mau bergaul dengan Nenek karena mereka menganggap Nenek sudah tidak waras dan berbahaya.
Ibu menyuruhku membuka semua pintu dan jendela untuk membersihkan rumah tua ini, agar ‘hantu-hantu’ dari kegelapan rumah ini pergi. Sungguh sulit membayangkan ada orang tinggal dalam kamar yang serba berantakan dan pengap seperti kuburan ini. Di meja tergeletak segelas teh sisa yang sudah dingin. Mungkin teh kemarin sore yang belum dibawa ke tempat cuci. Sarang laba-laba menghiasi di sudut-sudut ruangan menjadi hiasan abadi interior rumah tua ini.

Iseng kunyalakan radio transistor tua di atas lemari yang sudah diselimuti debu. Suaranya kemrosok. Kucari chanel musik pop kesukaanku.

“Kita bawa ke loundry saja Bu? Nggak usah repot-repot mencuci,” kataku saat Ibu keluar dari kamar sambil membawa kain pesing milik Nenek. Continue reading