Daily Archives: 22 April 2013

KISAH SEPENGGAL TANAH SURGA; Menyelamatkan Lahan Kritis

gundul

Kata, Anis Matta, dalam orasinya tidak lama ini dalam milad organisasi partai politiknya, Indonesia adalah sepenggal tanah surga. Ya, kenyataan ini memang tidak bisa dinafikan. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu ditegasi lagi, memang Indonesia dulu adalah sepenggal tanah surga. Tapi itu dahulu. Sekarang, Indonesia adalah biografi luka hingga kiamat tiba, kata seorang penyair Hamid Jabar.
Wah, ini tentu saja bukan sebuah ejekan atau sikap pesimistis semata. Kenyataan ini sebaliknya hendak mengajak kita untuk bersikap positif dan arif. Tidak hanya kepada diri saya pribadi tetapi juga orang lain, yang masih mengaku cinta Indonesia, untuk mengembalikan kisah sepenggal tanah surga ini.
Indonesia bukanlah lantunan lagu-lagu Koes Plus jaman dulu, yang mengatakan tongkat dan batu jadi tanaman. Tapi, Indonesia sekarang yang makin gersang dan banyak luka menganga ini yang harus kita benahi.
Saya yakin Tuhan memberikan bumi dan isinya ini untuk kita olah dan kita ambil manfaatnya. Tidak hanya menikmati saja, tetapi mempunyai peran mengolah dengan baik.
Seperti diberitaan Republika Online, Eksploitasi hutan dan lahan secara masif pada satu dekade terakhir ini menyisakan kerusakan lingkungan yang tidak dapat dianggap remeh. Sekitar 33 juta lahan di seluruh Indonesia dinyatakan dalam kondisi kritis.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Hadi Daryanto, mengatakan sebagian besar titik-titik lahan kritis tersebut terletak di Pulau Jawa dan Sumatra. Di Pulau Jawa sendiri, Provinsi Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah lahan kritis terbanyak. “Di Jawa dan Sumatra banyak, terutama di Jawa Barat,” kata dia, Ahad (11/3).
Tingginya angka lahan kritis ini, menurut Hadi, disebabkan karena budaya masyarakat yang lebih menyukai menanam tanaman yang cepat menghasilkan. Akibatnya, banyak lahan yang semestinya menjadi resapan air beralih fungsi menjadi area pertanian. “Budaya bertani itu bagus, tapi harus dibarengi dengan menanam pohon,” ujarnya.
Continue reading