Daily Archives: 22 November 2012

Stop Stigmatisasi Terhadap Agama


dimuat di majalah Respon MTA Nopember 2012

Stigmatisasi, berasal dari kata stigma, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah pelekatan citra negatif kepada diri seseorang oleh lingkungan. Pembicaraan kali ini penulis ingin mengetengahkan tentang stigmatisasi Islam yang meruncing sebagai pelaku terorisme. Sebuah ilustrasi yang nyata terjadi ini bisa menjadi sebuah contoh. Pada suatu hari dalam sebuah arisan ibu-ibu, sang ketua yang mendapat amanat dari kelurahan menyampaikan dua pesan kepada masyarakat agar mewaspadai dua hal : pertama, gaya hidup punk yang melanda anak muda, khususnya remaja. Yang kedua adalah radikalisme Islam yang selama ini dikonotasikan dengan NII. Barangkali karena perilaku anak punk yang anti kemapanan dan pemakaian aksesoris nyleneh yang suka anak punk kenakan yang membuat para orang tua-orang tua itu resah. Sedangkan pada pesan yang kedua, agaknya ketua yang tak mengerti makna sebenarnya radikalisme Islam, hanya mengetengahkan gejala-gejala yang sama sekali tidak akurat, dan cenderung ngawur. Sang ketua itu menghasung kepada ibu-ibu kampung, yang cenderung reaktif dan kurang pendidikan, agar menghindari memakai cadar bagi perempuan, tidak memakai pakaian hitam (entah apa hubungannya dengan warna hitam) dan menyuruh memakai peci hitam ala Sukarno supaya bisa dicirikan orang yang nasionalis.

Dari hal di atas, bisa ditengarai upaya stigmatisasi yang sengaja coba dilekatkan kepada simbol Islam, bahwa Islam adalah pelaku dominan terorisme di Indonesia. Lebih jauh stigmatisasi ini dilakukan dengan cara mempararelkan bahwa gerakan punk yang anti kemanapan sama berbahayanya dengan gerakan Islam radikal. Dan ketika yang menerima adalah masyarakat lapisan bawah yang cenderung reaktif dan agitatif, hal itu menjadikan masyarakat suka hantam kromo meng-qiyas-kan semua simbol dan gerakan Islam sebagai bentuk terorisme. Apalagi di tengah tayangan media televisi yang sering menampilkan Islam dalam kaitannya dengan jihad fi sabilillah secara parsial. Hal ini persis dengan kisah tiga orang buta yang ingin mengetahui bagaimana bentuk seekor gajah. Ada orang buta yang memegang ekor, mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti cemeti, atau yang memegang belalai mengatakan bahwa bentuk gajah adalah seperti pohon kecil, dan seterusnya. Hikmah dari cerita ini adalah pemberitaan parsial jelas sangat tidak bijaksana dan cenderung bisa membinasakan kerukunan hidup di Indonesia. Contohnya di jejaring sosial media media, yang minim sensor hanya akan menjadi ajang saling hujat antara pengunjung. Hal itu terjadi tidak hanya di portal berita Viva News, Yahoo, Detik.com atau Kaskus, bahkan hampir di semua situs jejaring sosial di muka bumi ini. Sudah menjadi pemandangan biasa pemeluk agama satu menghina agama lain dengan bahasa kasar dan vulgar hanya untuk melampiaskan emosi. Atau yang lebih tidak beradab adalah Innocence Of Muslim, yang menuai protes dan kecaman dari seluruh penjuru umat Islam di seluruh dunia. Apakah mental keberagamaan seperti ini yang hendak dicapai? Continue reading