Daily Archives: 27 August 2012

Filantropi Ramadhan dan Karnaval Pengemis Indonesia

dimuat di harian Joglo Semar 24/8

Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seseorang yang kadang-kadang diberi, kadang pula tidak (Hadits)

Setiap anak manusia tidak akan mau jika dikatakan sudah takdir mereka menjadi pengemis. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pengemis adalah seseorang berpakaian compang-camping yang merendah-rendah kepada orang dengan harapan agar diberi atau seseorang yang fakir yang menghidupi dirinya dengan jalan meminta-minta kepada orang lain.
Dalam Islam, menjadi pengemis tidak diharamkan. Sebaliknya kita akan menemui pengharaman (baca: penolakan) kepada pengemis semisal di beberapa perumahan yang menuliskan tebal-tebal dengan cat merah dan huruf kapital besar di pintu-pintu rumah mereka : PEMULUNG, PENGAMEN DAN PENGEMIS DILARANG MASUK!
Di bulan Ramadhan para pengemis bermunculan bak cendawan di musim hujan. Bagi mereka bulan Ramadhan adalah ‘bulan keberkahan’. Filantropi Ramadhan menjadikan kantong uang mereka cepat penuh daripada hari biasa. Namun sialnya di bulan Ramadhan ini ada juga para pengemis jadi-jadian. Jumlah sindikat pengemis ini tak kalah banyak dengan pengemis asli. Indikasinya mereka lebih senang bergerombol, badan sehat tetapi memaksakan kehendaknya pada korban (baca: pejalan) dengan raut muka memelas, menjadikan anak-anak kecil atau balita sebagai senjata agar dibelas kasihani. Mereka muncul di perempatan jalan, atau di beberapa tempat umum, semisal di Masjid Agung atau di tempat ziarah orang suci atau para wali.
Untuk sindikat pengemis itu mereka datang dan pergi secara terorganisir Bahkan sebelum beraksi mereka akan dirias dan diajari berakting agar meyakinkan di hadapan para korban. Kasihan para pengemis yang asli, tak jarang mereka kalah bersaing. Konon beberapa pedagang tasbih di sebuah masjid agung karena tak laku dagangannya, alih profesi menjadi pengemis. Alih-alih sedih mereka lebih senang menjadi pengemis karena penghasilan dari mengemis lebih banyak ketimbang berjualan tasbih. Continue reading