Daily Archives: 9 August 2012

TV FREE DAY


dimuat di Joglosemar

Wacana ini tentu bukan latah karena ada car free day. Atau karena dorongan para pembenci sinetron yang gemes dengan aroma yang ditawarkan production house entertainment di media televisi Indonesia tercinta ini. Titik pijak ide ini, adalah survei bahwa referensi penelitian ilmiah menunjukkan referensi dari buku masih menjadi rujukan pertama, kedua adalah surat kabar atau koran, dan yang ketiga adalah internet. Ini menjadi pertanyaan mengapa Televisi dengan keragaman acara yang tinggi dan media video yang lebih atraktif masih dipertanyakan keakuratannya validitasnya dalam penelitian ilmiah?
Sekilas televisi menjadi sangat relevan dalam kehidupan kita. Televisi memberi segala macam informasi. Apa yang kita butuhkan ada dalam kotak bernama televisi itu. Dari iklan kecantikan, acara kesehatan, olahraga, ilmu pengetahuan, hiburan hingga tausyiah keagamaan. Pun ada yang khusus menjadi portal berita selama 24 jam kehidupan manusia. Apalagi di bulan romadhan, televisi ikut mewarnai hari-hari orang Indonesia dengan beragam acara religi, yang beberapa dipaksakan agar bisa sesuai dengan religiusitas romadhan, bulan untuk menggembleng diri, menahan hawa nafsu, namun fakta yang terjadi bisa sebaliknya, khususnya untuk sinetron-sinetron religi itu. Lainnya televisi hendak menjadi media kajian dan dakwah lewat tausyiah-tausyiah dari para ustadz dan kyai. Dan ironisnya, acara ini belum mampu menjadi acuan terbaik orang belajar agama, khususnya Islam. Tengok saja ketika jeda iklan, apa yang terjadi adalah paradok luar biasa. Nyaris tanpa filter dari produser acara. Adalah sangat tidak konsisten jika setelah mengaji ilmu tentang ayat hijab, lantas ada iklan yang centang perenang membuka aurat. Atau taruhlah kajian yang membicarakan tentang keutamaan shodaqoh, tetapi iklan yang ditampilkan adalah anjuran konsumerisme yang tanpa batas. Bukankah seperti itu yang terjadi di televisi kita sekarang?
Dalam seminar sehari, media dalam wawasan kebangsaan di Karanganyar, seorang dosen Fisip UNS, yang biasa menggawangi acara Jagongan Sar Gedhe di televisi lokal di Solo ini, memaparkan kegiatan televisi yang telah menjadi kemestian dalam rumah kita. Tidak hanya tatkala kita membutuhkan hiburan dan informasi, namun ketika kita sedang terluang dari kegiatan apapun, ternyata berada di depan televisi menjadi sebuah pilihan kegiatan yang lebih sering kita lakukan dalam era sekarang ini. Sadar atau tanpa sadar, diri bertumbuh kembang dengan televisi sebagai input akan beragam hal. Namun televisi tidak hanya membuat pintar, tapi kadang membuat cemar. Pilihan yang beragam yang lebih membuat kita tercerabut dari orientasi dan prioritas dari beragam iklan televisi, atau tampilan yang terlalu seronok yang membiaskan akan inti dari keberbutuhan kita yang membutuhkan jawaban.
Senang atau tidak senang, televisi telah berada di sekitar kita dengan beraneka jualan yang terus memborbardir. Penonton bukanlah orang yang punya otoritas akan tontonan itu. Sebaliknya ia adalah korban dari apa yang dijejalkan oleh televisi. Diri kita dibentuk oleh televisi baik fisik maupun psikis. Continue reading