Daily Archives: 26 June 2012

Tersesat di Pasar Tiban

dimuat di cerita kita Suara Merdeka

Pagi yang bening. Embun masih enggan berpisah dengan pucuk daun. Kukuruyuk ayam jago di halaman membuka pagi ini yang cerah ini. Nisa baru saja merapikan selimutnya. Hari ini adalah hari libur. Ia memang bangun agak terlambat. Namun ia sudah sholat subuh sejak tadi.

Ya, hari ini hari libur. Ada banyak rencana yang ingin ia kerjakan. Jam delapan nanti ia bersama Ani mau pergi ke pasar tiban di kota.

Pasar tiban itu apa ya dan Nisa mau beli apa di pasar tiban sana?

Pasar tiban itu adalah pasar yang ramai pada hari libur saja. Para pedagangnya bukan pedagang tetap, tapi mereka berdatangan dari berbagai tempat dan menggelar dagangan atau lapak di sana.

“Nanti Nisa libur kan?” tanya Umi yang membawa sayuran mau memasak di dapur.
“Iya Mi. ada apa?”
“Kebetulan, Abi mau pergi ke rumah nenek. Nanti Nisa ikut sama Abi. Umi tidak bisa ikut karena mau membantu Ibu Rahmah yang baru saja melahirkan adik kecil.”
“Ehm…tapi Umi…” Nisa bingung. Ia kan punya rencana mau pergi ke pasar tiban di kota.
“Ada apa? Apa Nisa punya rencana lain.”
“Iya sih Mi. Nisa sudah janji mau pergi sama Ani ke pasar tiban di kota nanti siang. Bagaimana dong?” Continue reading

BELAS KASIH KEHIDUPAN

dimuat di koran Joglo Semar 24/6

Jalanan mengembun air mata. Jeritan panjang klakson mobil-mobil pribadi, truk gandengan, angkot, bis kota, menyentak-nyentang jantung Sanyoto yang berdebar kencang. Setiap langkahnya diburu waktu. Dan waktunya kini diburu oleh suara tangis anaknya yang sedang terbaring di bangsal puskesmas.

“Ia harus dirujuk ke rumah sakit Pak. Jangan sampai terlambat. Sakitnya tidak sekedar demam,” ujar istrinya dengan mata sembab.

Wajah anaknya yang pucat terkilas, makin menggerus hatinya. Tajam sengatan matahari tak hiraukan lagi. Diburunya bis kota yang sedang berhenti itu dan meloncat ke dalamnya.

Mata-mata jengah seakan mengecam dirinya, pengamen yang hidup dari uang recehan para penumpang bis kota.

“Selamat siang penumpang bis Semoga Jaya… perkenankan saya mengamen sekedar mencari rupiah untuk makan dan pengobat bagi kehidupan kami. Orang-orang yang papa di jalanan.”

Sebuah lagu didendangkannya dengan suara parau, suara kemiskinan yang menjadi warna hidupnya. Suaranya mengiba, meminta simpati. Continue reading