Daily Archives: 10 October 2009

Gapura Sebagai Beban Artificial Desa

Gapura Sebagai Beban Artificial Desa
Oleh Andri Saptono

Gapura dalam kamus WJS Purwadarminta berarti pintu gerbang. Secara ontologis ia menjalankan fungsinya sebagai ambang untuk memasuki puri kedalaman pada suatu tempat atau rumah. Ucapan selamat datang biasanya menjadi wajib dibubuhkan di gapura tersebut beserta nama tempat atau lokasi.
Gapura bisa juga menjadi sebuah penanda akan ekslusivitas (kepemilikan) atau teretory (sebagai daerah kekuasaan).
Pembangunan gapura sekarang ini memang marak sekali seperti tumbuhnya cendawan di musim hujan. Fenomena ini hampir tak diketahui pasti kapan mulainya. Tapi beberapa moment penting, semisal peringatan hari kemerdekaan, memang menggunakan gapura sebagai bagian dari bentuk-betuk perlombaan untuk memperingati momen-momen itu. Semisal lomba hias gapura tujuh belasan yang diadakan di beberapa tempat secara aksidental.
Disorientasi Pembangunan.
Gapura selamat datang di desa-desa yang sekarang ini marak dan stereotif adalah contoh kesalahan dari sebuah orientasi pembangunan. Continue reading

Paradok Pabrik Gula Tasikmadu

9_Loko_uap_melewati_depan_PG_Tasikmadu
Paradok Pabrik Gula Tasikmadu
Oleh Andri Saptono

Riwayat pabrik gula Tasikmadu yang dulu didirikan oleh KGGPA Mangkunegoro IV pada tahun 1871 yang sekarang berganti PTPN IX tidak bisa dipungkiri memang lagi cenderung berorientasi pada kegiatan agro wisata Sondokoro-nya. Publikasi iklan yang giat ditunjang berbagai pembangunan wahana rekreasi di dalam komplek pabrik makin meneguhkan citra pabrik gula Tasikmadu yang ingin mengembangkan wahana rekreasi sebagai pemasukan penting selain tetap memproduksi gula sebagai hasil utama. Malah cara produksi gula yang sebagian masih memakai alat-alat kerja tempo dulu menjadikan salah satu daya tarik pabrik gula Tasikmadu yang bisa dijual. Namun pabrik gula Tasikmadu juga menyajikan sebuah paradok. Seakan ingin menampilkan keeksotikan sebuah pabrik gula peninggalan jaman kolonial dengan wahana agro wisatanya tapi proses buangan limbah pabrik gula itu sendiri kurang mendapat perhatian yang memadai. Pabrik gula yang kini sedang menggiatkan salah satu wahana agro wisata Sondokoro-nya sebaliknya juga mengotori wahana tersebut dengan asap dan debu dari cerobong asap yang mengepul rendah.
Kita memang kurang menyadari atau kerap mengabaikan bahaya-bahaya dari polusi cerobong asap. Di desa sekitar yang masih satu kelurahan dengan pabrik gula Tasikmadu juga mendapat imbas yang buruk dari cerobong asap itu. Tak ayal setiap selesai musim giling setiap rumah akan memanen debu di plafon setiap rumah. Setiap orang yang melintas di dekat kawasan pabrik tak jarang sering kelilipan debu dari asap pabrik. Hal ini tentu sangat tidak nyaman dan cenderung berakibat berbahaya. Sikap masyarakat sekitar yang abai, mungkin karena sudah terbiasa dan merasa urip (baca: bekerja) dari bekerja di pabrik gula tersebut seharusnya tidak boleh kita lantas membuat sebuah apologi untuk tidak bersikap kritis. Continue reading